Kredit UMKM Mahal
Ditulis oleh Administrator Kamis, 31 May 2012 11:03
Jakarta, KOMPAS - krndati pemain baru di kredit mikro serta kredit usaha kecil menengah bermunculan, tingkat persaingan bank dalam kredit mikro dan usaha kecil masih kalah ketat dibandingkan dengan kredit korporasi. Selain itu biaya operational kredit korporasi juga lebih rendah.
Suku Bunga Deposito Bank Tidak Efisien
Ditulis oleh Administrator Kamis, 31 May 2012 10:35
Jakarta, KOMPAS - Suku bunga deposito perbankan tidak efisien karena struktur pendanaan bank bersifat oligopoli. Pemilik dana besar, misalnya institusi penghimpun dana jangka panjang, sangat mempengaruhi penentuan suku bunga deposito. struktur bunga deposito juga masih tidak rasional.
LPS Turunkan Suku Bunga Penjamin
Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 13 Maret 2012 15:16 Selasa, 13 Maret 2012 15:09
JAKARTA: Suku bunga wajar penjamin simpanan akhirnya berada di bawah suku bunga acuan setelah Lembaga Penjamin Simpanan memangkas 50 poin, meskipun pada bulan ini bank sentral mempertahankan bunga acuan.
Dengan pemangkasan 50 poin bunga wajar penjaminan simpanan (LPS Rate) bank umum denominasi menjadi 5,5% dan bank perkreditan rakyat (BPR) menjadi 8,0%. Adapun bunga penjaminan simpanan denominasi valas hanya dipangkas 25 poin menjadi 1%. Ketentuan itu efektif mulai 15 Maret -14 Mei 2012.
Salusra Satria, Direktur Penjamin dan Manajemen Resiko LPS, mengatakan alasan penurunan bunga wajar penjamin simpanan karena kinerja ekonomi domestik cukup stabil yang terlihat dari penurunan inflasi dari 3,65% pada Januari ke 3,56% pada Februari 2012. “Kami melihat nilai tukar dan cadangan devisa yang stabil dan meningkat. Nilai tukar stabil pada rentang Rp 8.906 per dollar AS – Rp 9.106 per dollar AS, sedangkan cadangan devisa meningkat dari US$112 miliar pada Februari 2012,” ujarnya dalam keterangan tertulis kemarin.
BPR diminta kurangi kredit konsumsi
Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 13 Maret 2012 12:58 Selasa, 13 Maret 2012 11:33
Jakarta: Bank Indonesia meminta kepada industry Bank Perkreditan Rakyat untuk menurunkan porsi kredit konsumsi karena berbahaya bagi kualitas pembiayaan.
Edy Setiadi, Direktur Kredit , BPR dan UMKM Bank Indonesia (BI), mengatakan sebagian Bank Perkreditan Rakyat (BPR) belum memiliki kesiapan dalam mengembangkan kredit konsumsi.
“Kebanyakan BPR memiliki asetdi bawah Rp 10 miliar, sehingga tidak wajib untuk ikut SID [sistem informasi debitur ]. Karena mereka tidak ikut SID, tidak tahu apakah nasabah tersebut kelilit hutang di tempat lain,” ujarnya kemarin.
BPR Perlu Genjot Likuiditas DPK
Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 31 May 2012 09:22 Ditulis oleh Adhie Sastro Sadewo Selasa, 06 Maret 2012 13:34
BPR Perlu Genjot Likuiditas DPK
Kredit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) periode Januari- Oktober 2011 mencapai Rp40 triliun atau tumbuh 20,96% dari Rp33 triliun periode Januari-Oktober 2011. Namun Bank Indonesia menilai BPR masih perlu menggenjot likuiditas dana pihak ketiga (DPK).
Direktur Direktorat Kredit, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMKM Bank Indonesia (BI) Edy Setiadi mengungkapkan pertumbuhan likuditas dana pihak ketiga BPR bisa dilakukan melalui program linkage dengan bank umum. “Sebab dana pihak ketiga di BPR masih lebih rendah dibandingkan kreditnya, yaitu Rp36 triliun, tumbuh 21,31% dari Rp30 triliun Oktober tahun lalu. BPR harus memanfaatkan program linkage dengan bank umum guna meningkatkan likuiditas,” katanya.
Artikel yang lain...
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
«MulaiSebelumnya12SelanjutnyaAkhir»PT. Artha Nusa Sembada
| BULETIN WARTHA |
Buletin yang selama ini berisi tentang informasi-informasi seputar perkembangan BPR group ANS dan dunia perbankan telah "dihidupkan" kembali melalui media yang berbeda. Forum resmi group-ans yang diharapkan dapat berguna untuk semua kalangan tidak terbatas hanya kepada seluruh karyawan BPR group ANS tetapi terbuka untuk umum.
Forum group ANS diasuh oleh orang-orang yang ahli dibidangnya. Baik dari masalah Finansial, Metode grameen, Teknologi Informasi, Manajemen, dll. Maju terus Buletin Wartha, cayoooo....
Buletin Warna
Buletin yang selama ini berisi tentang informasi-informasi seputar perkembangan BPR group ANS dan dunia perbankan telah "dihidupkan" kembali melalui media yang berbeda. Forum resmi group-ans yang diharapkan dapat berguna untuk semua kalangan tidak terbatas hanya kepada seluruh karyawan BPR group ANS tetapi terbuka untuk umum.
Forum group ANS diasuh oleh orang-orang yang ahli dibidangnya. Baik dari masalah Finansial, Metode grameen, Teknologi Informasi, Manajemen, dll. Maju terus Buletin Wartha, cayoooo....
Bank Indonesia Batasi Penyaluran Kredit BPR
Ratna menambahkan, hal ini tertuang ke dalam kebijakan bank sentral di tahun 2010 dimana BPR akan dibuat menjadi komunitas bank sendiri. "Selain itu, pada tahun ini juga akan dibuat Apex atau induk dari BPR," jelas Ratna.Apex atau lembaga dana khusus bagi BPR menurut Ratna akan memberikan banyak sisi positif bagi BPR."Dibentuknya Apex nantinya supaya bisa BPR lebih melayani nasabahnya. Misalnya biasanya transfer antar bank tidak boleh, maka nanti kalau ada Apex jadi diperbolehkan. Melalui Apex juga nantinya ada insentif dan disinsentif bagi bank yang bagus serta modalnya kuat," papar Ratna.Lebih lanjut Ratna menambahkan, sisi pengawasan melalui Apex tersebut akan lebih fokus juga. "Karena salah satu fungsi Apex itu juga untuk pengawas," tandasnya.





